Alasan berikutnya kenapa kita harus memenangkan agenda politik ini adalah alasan kemanusiaan yang universal, terutama tentang nasib saudara-saudara seiman kita di seluruh penjuru dunia. Jika Anda adalah pelanggan setia harian republika maka Anda akan memahaminya. Bukalah halaman paling belakang, setiap hari ada saja sesuatu yang menimpa saudara kita nun jauh di sana.
Tahukah Anda jika muslimin Amerika kesulitan mendapat makanan halal? Atau pemerintah Eropa, Skandinavia, bahkan Tunisia yang melarang penggunaan jilbab? Pemerintahan Islam pun mengalami hal yang serupa. Pemerintah Islam Sudan ditekan, Somalia dianggap penjahat perang, Pemerintah Islami Uganda dicap diktator, Parlemen Turki yang islami dihujat besar-besaran lantaran mencabut larangan berjilbab di tempat umum.
Ingatlah di awal tahun ini, Gaza diporak-porandakan. Kemana negara-negara Arab? Mana Jordan, Arab Saudi, Yaman, Lebanon? Diam saja masih mending, mereka tak kuasa menghadapi lobby Israel-Amerika. Malah ada yang lebih parah. Mesir. Ya, Mesir. Negara dimana Al-Ikhwanul Muslimin, tonggak sejarah baru kebangkitan Islam berdiri, ternyata menjadi pengekor setia Israel. Konon kabarnya penyerangan ini terjadi pasca pertemuan rahasia Tzipi Livni (Menteri Luar Negeri Israel) dengan pemerintah Mesir. Lihat saja, betapa sulitnya akses bantuan dunia melalui pintu masuk Palestina-Mesir, Rafah.
Hari ini, Republik Islam Iran cukup kuat. Ia dapat berdiri di atas kaki sendiri. Di tengah goncangan badai luar: embargo ekonomi, pengucilan dari dunia internasional, fitnah dan tuduhan, setidaknya mereka bertahan dan tetap kokoh dengan ideologinya (di luar kontroversi Syi’ah tentunya).
Hari ini, Hamas kuat. Tidak berhak Israel mengklaim Hamas takluk dalam penyerangan kemarin. Tidak. Justru mereka semakin kuat! Hamas bukanlah sebatas pergerakan militer, juga bukan hanya pergerakan ekonomi, Hamas telah mengakar di relung hati setiap warga Palestin. Mereka merasa tenteram selama ada Hamas melindungi mereka.
Namun, dunia hari ini membutuhkan wajah negara Islam yang berbeda. Yang tidak gontok-gontokan dengan Barat tapi tidak mengekor. Yang moderat tapi tidak kehilangan idealisme. Yang bersikap lemah lembut terhadap orang muslim dan bersikap keras terhadap kaum kafir (keras dalam artian tegas dan tamapak berwibawa).
Rudd dari Australia, Clinton dari Amerika, dan Menteri luar negeri Italia (saya lupa namanya) secara berturut-turut berkunjung ke Indonesia dan satu suara mereka “memuji” Indonesia sebagai negara Islam paling moderat di dunia. Timbul pertanyaan, apakah maksud pujian itu adalah klaim bahwa kita telah sekuler?
Naudzubillah…
Indonesia, saudaraku, sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia amat di nanti kioprahnya oleh negara-negara Islam lain. Pertolongan terbesar yang dirasakan oleh Gaza adalah dari Indonesia. Kita ingat bagaimana pemerintah (Hidayat Nur wahid, SBY dan Agung Laksono) bolak-balik melobby negara-negara dunia untuk menghentikan agresi itu. Begitu pula aksi solidaritas kita di bunderan HI, di Bandung, Yogya, dan kota-kota lain, lantas mengumpulkan dana miliaran rupiah, ternyata berpengaruh besar bagi warga Gaza sana.
Maka dari itu saudaraku, kita membutuhkan wajah pemerintahan Islam yang kuat. Yang jauh lebih kuat dari hari ini. Sehingga mereka gentar dengan kita. Tak ada lagi ceritanya Blok Cepu tergadaikan gara-gara lobby pemerintah Amerika. Bahkan boikot barang Israel bisa mencapai tahap boikot produksi, tak sekadar boikot pembelian secara temporal saja.
Mereka menanti kita, Gaza, Afgan, Iran, dan negara-negara Islam lain, juga minoritas penduduk muslim di negara Barat sana.
Kuatkan tekad, satukan tujuan, kibarkan panji Islam Islam dalam satu barisan, hal inilah yang menjadikan keniscayaan bagi kemenangan kita.
Semoga Allah meridhoi setiap langkah kita.

ari 10
